Header Ads

Header ADS

Katamso Dharmokusumo :Pahlawan Revolusi

Gerakan 30 September yang dilancarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak hanya terjadi di Ibukota, Jakarta. Di kota yang pernah dijadikan Ibukota Republik Indonesia ketika revolusi, Yogyakarta, gerakan itu juga dilakukan. Salah seorang yang harus ‘dijemput’ di Yogyakarta itu adalah Kolonel Katamso Dharmokusumo. 


Katamso Dharmokusumo dilahirkan di kota Sragen, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Februari 1923. Pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Menengah. Ketika Jepang masuk dan akhirnya menduduki Indo­nesia, Katamso Dharmokusumo mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA).

Pemberontakan yang serasa silih berganti terjadi di Indonesia setelah Indonesia merdeka memaksanya untuk terus berjuang demi tegaknya negeri Indo­nesia yang bersatu padu dari Sabang hingga Merauke. Katamso terlibat aktif dalam penumpasan pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah yang menya­takan diri bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Operasi penumpasan pemberontak tersebut dinamakan Ope­rasi Merdeka Timur di bawah pimpinan Letnan Kolonel Suharto.

Ketika Letnan Kolonel Ahmad Husein pada tang­gal 15 Februari 1958 memproklamasikan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat, Katamso Dharmokusumo ditunjuk menjadi Komandan Batalyon A yang berada dalam Operasi 17 Agustus pimpinan Kolonel Ahmad Yani dengan tugas khusus untuk mengamankan daerah Sumatera Barat yang sedang bergolak tersebut.

Karier militer Katamso Dharmokusumo terus naik. Berbagai jabatan pernah disandangnya, di antaranya sebagai Kepala Resimen Tim Pertempuran (RTP) II Diponegoro di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, la juga pernah bertugas sebagai Komandan pada Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) dan merangkap sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) di Bandung.

Di kota Yogyakarta Katamso Dharmokusumo dipercaya menjadi Komandan Komando Resort Miter (Korem) 072 Komando Daerah (Kodam) VI Diponegoro. Dan di kota Yogyakarta itulah karier militer Kolonel Katamso Dharmokusumo berakhir untuk selama-lamanya.

Kolonel Katamso Dharmokusumo adalah salah seorang perwira Angkatan Darat yang tidak bisa diajak ‘bekerja sama’ oleh Partai Komunis Indonesia. Oleh karena itu namanya tercantum dalam daftar orang yang harus dilenyapkan.

Gerakan 30 September di Yogyakarta berhasil menjemput Kolonel Katamso Dharmokusumo untuk dibawa ke Kentungan, sebelah utara Yogyakarta. Kolo­nel Katamso Dharmokusumo pun mengalami penyik­saan di luar batas kemanusiaan. Kolonel Katamso Dharmokusumo akhirnya gugur sebagai kusuma bangsa dengan tetap memperlihatkan sikap kesatria seorang prajirit sejati Indonesia yang tidak mau bekerja sama dengan para pemberontak tanah air tercintanya.

Jasad Kolonel Katamso Dharmokusumo di­buang di daerah Kentungan hingga akhirnya ditemukan tanggal 22 Oktober 1965, selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara. Yogyakarta.

Pemerintah Indonesia mengangkat Katamso Dharmokusumo menjadi Pahlawan Revolusi pada tahun 1965 dan menganugerahinya pangkat setingkat lebih tinggi, menjadi Brigadir Jenderal Anumerta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.