Header Ads

Header ADS

Juanda Kartawijaya, Ilmuwan dan Tokoh Pergerakan Nasional

Barangkali, ia adalah sosok yang paling sering menduduki jabatan menteri dalam berbagai kabinet di Indonesia. Sejarah Indonesia men­catat, ia ditunjuk sebanyak 17 kali menjadi menteri. Semua kepercayaan negara itu menunjukkan kualitas dan kemampuan hebat yang dimilikinya, la adalah Ir. Raden Juanda Kartawijaya.


Juanda Kartawijaya dilahirkan pada tanggai 14 Januari 1911 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak kecil ia dikenal cerdas dan menonjol sifat kepemimpinan­nya. Selepas dari HBS ( Hogere Burger School) ia melanjutkan ke Technische Hooge School Bandung - sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB) - hingga lulus dan menyandang gelar Insinyur. Juanda kemudian menjadi guru di SMA Muhammadiyah Jakarta hingga akhir­nya menjadi direktur pada sekolah terse­but. Ia juga pernah menjadi tenaga ahli pada Jawatan Peng­airan Jawa Barat dan menjadi anggota De­wan Daerah Jakarta.

Berbagai jabat­an di pemerintahan pusat kemudian disandang lelaki Tasikmalaya ini. la pernah menduduki berbagai jabatan penting, di anta­ranya sebagai :
  1. Menteri Keuangan pada Kabinet Kerja I (10 Juli 1959 - 18 Februari I960), Kabinet Kerja II (18 Februari 1960 - 6 Maret 1962).
  2. Menteri Pekerjaan Umum pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949).
  3. Menteri Perdagangan pada Kabinet RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950).
  4. Menteri Perhubungan pada Kabinet Syahrir III (2 Oktober 1946 - 26 Juni 1947), Kabinet Amir Syarifuddin l (3 Juli 1947-11 November 1947), Amir Syarifuddin II (11 November 1947- 29 Januari 1948), Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949), Kabinet Sukiman Suwiryo (27 April 1951 - 3 April 1952), Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 30 Juli 1953).
  5. Menteri Pertanian pada Kabinet RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950).
Ketika meletus pemberontakan Permesta 2 Maret 1957 di Manado yang disusul PRRI 15 Februari 1958 di Sumatera Barat, banyak pihak yang menun­tutnya mundur dari jabatan Menteri Pertama (Perdana Menteri) mengingat Presiden Sukarno sedang berada di luar negeri. Namun dengan tegas Juanda Kartawijaya menolak tuntutan tersebut. TNI kemudian berhasil mematahkan dua pemberontakan itu dan berakhir sekitar pertengahan tahun 1961.

Ketokohan Juanda Kartawijaya tidak saja diakui di dalam negeri melainkan juga oleh kalangan internasional. Beberapa negara sahabat memberikan bintang kehormatan baginya. Di antaranya, Bintang Yugoslavia kelas 1, Bintang Sri Maharaja Mangkunegara dari Tanah Melayu dan juga Bintang Republik Rakyat Ru­mania kelas II.

Ir. Raden Juanda Kartawijaya wafat di Jakarta pada tanggal 7 November 1963. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dan pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional pada tanggal 29 No­vember 1963.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.