Header Ads

Header ADS

Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila : Penemu Stik Detektor Boraks

Dalam kehidupan sehari-hari, makanan yang mengandung boraks banyak beredar di pasaran. Hal itu meresahkan karena boraks dapat membahayakan kesehatan dan mengancam jiwa. Namun, tidak mudah mengetahui makanan mana yang mengandung bahan kimia berbahaya tersebut.

Selama ini, deteksi boraks pada makanan terbilang tidak praktis dan efektif. Sebab, dibutuhkan tes dan uji laboratorium yang memakan waktu cukup lama.


Dayu Laras Waning dan Luthfia Adila, siswi asal SMA Negeri 3 Semarang, berhasil menciptakan alat sederhana untuk mendeteksi boraks. Mereka pun menyabet emas dalam ajang kompetisi inovasi anak muda tingkat dunia, International Exhibition for Young Inventors (IEYI) yang berlangsung di Jakarta pada 30 Oktober - 1 November 2014.

Dayu dan Luthfia membuat perangkat sederhana untuk mendeteksi boraks dengan praktis dan cepat yang diberi nama stick of borax detector atau Sibodec. Lewat perangkat yang serupa tusuk gigi itu, mereka berupaya menyelesaikan masalah yang selalu dihadapi masyarakat, yaitu kesulitan memilih makanan bebas boraks.

Tusuk gigi dipilih karena lebih praktis dan murah. Penemuan mereka ini berawal ketika isu daging yang mengandung boraks ramai diperbincangkan. Hal tersebut menimbulkan keprihatinan dan meninggalkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana cara mendeteksi daging yang mengandung boraks.

"Ternyata cek boraks harus ke laboratorium, membayar Rp.30 ribu untuk satu sampel, dan menunggu sekitar tiga minggu untuk prosedurnya," ungkap Dayu.

Dara kelahiran 15 November 1996 itu kemudian berkonsultasi dengan guru pembimbingnya. Akhirnya tercetus ide untuk memanfaatkan tusuk gigi karena, menurut mereka, tusuk gigi lebih praktis dan yang pasti murah.

Dibantu guru pembimbing, Agus Priyatno, mereka melakukan penelitian sejak kelas X dan pada tahun 2013 lalu berhasil menemukan racikan bahan herbal yang bisa diaplikasikan ke tusuk gigi biasa. Cara kerjanya pun cukup efektif, tinggal menusukkannya ke daging dan tunggu 5 detik.

"Kalau berubah merah, berarti mengandung boraks. Tidak hanya daging, mie pun bisa dites, caranya digulung dulu jadi bola, lalu ditusuk. Kalau untuk kerupuk, dihancurkan dan dicampur air, kemudian oleskan di tusuk gigi," terang Dayu.

"Jadi, kalau ke pasar, bisa diam-diam tusukkan ke daging. Jadi, pedagangnya tidak tahu dan enggak marah-marah. Ini juga tidak mengubah kualitas makanan, kok," timpal Luthfia,

Dayu dan Luthfia masih enggan membeberkan rahasia pembuatan tusuk gigi ajaib itu. Kini mereka sedang berusaha memperoleh hak paten atas temuan mereka. Balai Besar POM Semarang pun ikut membantu pengujian.

Tidak hanya mengusahakan hak paten, mereka juga sudah merencanakan menjual Sibodec dengan kemasan kotak kecil berisi 35 sachet dengan harga Rp.35 ribu. Harga tersebut sangat murah karena satu sachet berisi dua tusuk gigi dan bisa digunakan beberapa kali.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.