Pangeran Diponegoro : Pejuang Besar Tanah Jawa

Inggris mengembalikan Hindia Belanda kepada Belanda pada tahun 1816, dimana kondisi rakyat sudah sangat memprihatinkan. Penderitaan dan keseng­saraan mereka kian menjadi-jadi karena adanya ber­bagai pajak dan monopoli yang sebelumnya diterapkan penjajah inggris. Kembalinya Belanda semakin mem­perparah kondisi rakyat dengan tetap diberlakukannya kerja paksa (rodi) guna kepentingan pemerintah Kolo­nial Belanda. 

Belanda juga menularkan 'kebudayaan' buruk mereka ke wilayah jajahannya, termasuk di dalam lingkungan keraton, semisal kebiasaan meminum minum­an keras dalam perhelatan di dalam keraton. Ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Berbagai ketimpangan, kesewenang-wenangan dan penindasan Belanda atas rakyat sangat membuat geram seorang lelaki bangsawan Yogyakarta yang berdiam di daerah Tegalrejo, Yogyakarta, untuk bertindak. Lelaki itu Pangeran Diponegoro namanya.



Nama kecilnya adalah Raden Mas OntoWiryo. Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 11 Noyember 1785. la putera Sultan Hamengku Buwono III (Sultan Yogyakarta). Namun karena ibunya bukan berasal keturunan bangsawan yang tinggi martabatnya, ia tidak akan menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai Sultan. Diponegoro tidak merasa sedih dengan kenyataan itu karena ia memang tidak menginginkan kedudukan, jabatan serta juga kekayaan. Keinginannya hanya satu, menegakkan syariat agama yang kukuh dipegangnya. Untuk meraih cita-citanya, terlebih dulu Belanda harus diusir jauh-jauh dari tanah air tercintanya. Ia tidak bisa membenarkan penjajahan manusia atas manusia.

Sikap dan perilaku Diponegoro seperti itu akibat didikan Ratu Ageng, janda Sutan Hamengku Buwono I, yang terkenal amat saleh. Dalam asuhan Ratu Ageng yang masih terhitung neneknya, Diponegoro tumbuh menjadi pemuda Muslim yang taat pada ajaran agama­nya dan mempunyai kepekaan yang tinggi atas nasib rakyatnya, la kerap bertafakur di tempat-tempat yang sunyi untuk mencari ilham guna menegakkan syariat Islam di tanah airnya. Rakyat Yogyakarta telah menge­nal pangeran muda itu sebagai sosok kharismatik dan tidak sedikit pula yang menganggapnya keramat.


Pengaruh Diponegoro makin meluas di ka­langan rakyat dan juga di kalangan bangsa­wan keraton Yogyakarta. Adalah Patih ke­raton Yogyakarta, Da­nurejo IV namanya, yang merasa cemas mendapati kenyataan itu. Patih Danurejo IV adalah pelaksana pe­merintahan keraton mengingat Sultan Hamengku Buwono V yang ketika itu memerintah, masih berusia sangat muda, la seolah tidak bisa menerima jika nama Diponegoro semakin hari semakin harum di kalangan rakyat dan bangsa­wan Yogyakarta, la sangat takut jika kedudukannya akan tersingkir karena Diponegoro. Patih Danurejo IV lalu berusaha mencari cara untuk ‘menyingkirkan’ Diponegoro!

Pemerintah Kolonial Belanda juga mengetahui, Diponegoro adalah ancaman serius bagi mereka. Sebelum pengaruh Diponegoro makin meluas dan menimbulkan masalah bagi mereka di kemudian hari, pemerintah Belanda mencari-cari cara untuk ‘menying­kirkan’ putera Sultan Hamengku Buwono III itu terlebih dulu.

Pemerintah Kolonial Belanda menemukan cara. Mereka berniat membangun jalan raya dari Yogyakarta menuju Magelang melewati daerah di mana Diponegoro bermukim, Tegalrejo. Tidak hanya itu, jablan itu juga akan ‘menerjang’ makam keramat di Tegalrejo, yang merupakan makam leluhur Diponegoro. Tentu saja Diponegoro menolak mentah-mentah rencana Belanda. Penolakan Diponegoro Itulah yang sesungguhnya diinginkan Belanda. Mereka dapat menyingkirkan Diponegoro dengan alasan berani menentang rencana pemerintah Kolonial Belanda.

Mengetahui penolakan Diponegoro, Pangeran Mangkubumi yang masih terhitung paman Diponegoro mencoba menyadarkan keponakannya. Namun se­telah dijelaskan kejadian sesungguhnya yang terjadi di Tegalrejo itu, Mangkubumi sangat membenarkan si­kap keponakannya. Lebih jauh, Mangkubumi langsung memihak kepada keponakannya dan berniat tidak akan kembali ke keraton Yogyakarta.

Penolakan Diponegoro membuat Belanda mem­punyai ‘alasan’ untuk menangkapnya. Patih Danurejo IV amat menyetujui gagasan penangkapan itu. Pasu­kan Kompeni pun bergegas menuju Tegalrejo pada Juli 1825, namun Diponegoro dan Mangkubumi ber­hasil melarikan diri. Kesal karena gagal menangkap Diponegoro, pasukan Belanda lalu membakar rumah Diponegoro. Kelakuan pasukan Belanda tersebut memicu kemarahan rakyat. Mereka lantas mendatangi Pangeran Diponegoro di tempat persembunyiannya dan menyatakan diri siap mendukung Pangeran Dipo­negoro untuk memerangi Kompeni Belanda.

Dari berbagai penjuru Yogyakarta, rakyat ber­duyun-duyun menyatakan diri menjadi pengikut Dipo­negoro. Segala perlengkapan perang turut mereka bawa. Dari mulai tombak, keris, pedang, parang, kapak dan bahkan bambu yang diruncingkan ujungnya. Terus saja bertambah-tambah jumlah mereka hingga dalam waktu tak lama jumlah ‘pasukan’ Diponegoro membengkak amat banyak jumlahnya. Mereka mengangkat Diponegoro sebagai Kepala Negara serta Kepala Agama dengan memberikan gelar Sultan Abdul Hamid Hemcokro Amirul Mukminin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi.

Tidak sedikit para bangsawan keraton Yogya­karta yang turut bergabung dalam barisan Diponegoro. Tidak sedikit pula kaum alim ulama yang turut berga­bung. Salah seorang ulama yang sangat berpengaruh waktu itu adalah Kyai Mojo. Dan salah seorang bang­sawan yang sangat hebat strategi perangnya adalah Basah Sentot Prawiradirja. la adalah putera Prawiradirja, Bupati Wedana Maospati yang gugur di tangan pasukan Belanda di daerah Kertosono. Sekalipun usianya masih sangat muda, keberanian berperang Basah Sentot Prawiradirja sangat mengagumkan, ia juga sa­ngat pintar menerapkan strategi perang dan cakap me­mimpin pasukan, la senopati (panglima) perang yang hebat dalam pasukan Diponegoro.

Selain itu di kubu Diponegoro masih terdapat Pangeran Mangkubumi yang bertindak sebagai pena- sehat dan juga Pangeran Ngabehi Jayakusuma yang ditunjuk sebagai panglima perang, Nyi Ageng Serang dan juga Pangeran Pak-pak, menantu Nyi Ageng Se­rang.

Markas pasukan Diponegoro semula berada di Deksa, sebelah barat Yogyakarta. Sedang pusat ‘pe­merintahan’ mereka terdapat di Pleret, selatan Yogya­karta. Pleret kemudian memang berhasil direbut
pasukan Belanda, namun itu setelah melalui perperangan dahsyat yang memakan korban amat banyak di pihak Belanda. Markas besar pasukan Diponegoto selanjutnya adalah gua Selarong, di sebelah selatan Yogyakarta.

Selama menjajah, Belanda baru merasakan amat beratnya menghadapi perlawanan rakyat jajahannya seperti yang dihadapinya ketika itu. Hampir di setiap medan pertempuran, pasukan Kompeni Belanda selalu menemui kekalahan. Di daerah-daerah Yogyakarta, Surakarta, Kedu, Banyumas, Pekalongan dan daerah-daerah lainnya, pasukan Diponegoro berhasil menghancurkan pasukan Kompeni Belanda. Amat banyak anggota pasukannya yang meregang nyawa dan amat banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memadamkan perlawanan Diponegoro. Ke­kuatan pasukan Diponegoro tidak semakin berkurang, namun malah semakin menguat setiap saat.

Kompeni Belanda yang juga tengah mengha­dapi perlawanan Imam Bonjol di daerah Minangkabau, Sumatera Barat, menerapkan siasat ‘gencatan senjata’ dengan pejuang-pejuang Minangkabau itu dan menarik sebagian besar anggota pasukannya ke tanah Jawa dan juga anggota pasukan Belanda yang berada di tempat lain, untuk menghadapi perlawanan Dipone­goro. Sekalipun demikian, mereka terus mendapat ke­kalahan hingga akhirnya terpaksa mendatangkan ang­gota pasukan langsung dari negeri leluhurnya. Perwi­ra-perwira Belanda yang telah berpengalaman di medan-medan pertempuran juga didatangkan ke tanah Jawa untuk mengalahkan perlawanan sengit putera Sultan Hamengku Buwono III itu.

Berbagai siasat perang telah diterapkan, namun tetap saja pasukan Belanda menemui kegagalan dan kekalahan. Hingga akhirnya mereka menjalankan sia­sat perang yang mereka namakan Siasat Benteng. Siasat ini dijalankan dengan mendirikan benteng-ben­teng yang mengelilingi daerah perlawanan Dipone­goro. Benteng-benteng itu terus bergerak menuju tengah dan patroli pasukan terus disiagakan untuk mengamankan daerah di sekitar benteng yang telah mereka kuasai. Dengan Siasat Benteng, pergerakan pasukan Diponegoro menjadi menyempit. Beberapa wilayah tidak bisa lagi berhubungan dengan markas besar Diponegoro dan beberapa Bupati yang semula setia kepada Diponegoro menjadi berpihak kepada Belanda setelah diiming-imingi janji yang menyenang­kan mereka. Pembelotan yang sangat memukul ke­kuatan Diponegoro adalah penyeberangan senopati perang Basah Sentot Prawiradirja ke pihak Belanda.

Perlahan namun pasti pasukan Diponegoro ter­kurung dan terus terpepet. Kyai Mojo yang tetap setia dengan Pangeran Diponegoro akhirnya tertangkap dan kemudian diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Dua pilar pendukung kekuatan Diponegoro telah hilang. Na­mun tak ada kata menyerah bagi Pangeran Dipone­goro. Perjuangan yang dilakukannya adalah perjuang­an suci untuk membela agama. Hidup atau mati dalam pertempuran membela agama adalah kemenangan. Dan itulah yang menyebabkan peperangan terus ber­langsung dengan dahsyat sekalipun Belanda terus menggiatkan strategi perang 'Siasat Benteng".

Pemerintah Kolonial Belanda menyadari mereka tidak mungkin dapat mengalahkan Pangeran Diponegoro dalam waktu sebentar. Masih butuh waktu yang amat panjang, jumlah pasukan yang lebih banyak dan biaya yang lebih lagi. Padahal biaya yang dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro telah menguras habis-habis persediaan uang mereka. Belum lagi perlawanan yang mulai muncul di daerah lain di Indonesia, hingga pemerintah Belanda mencari pinjaman ke negara-negara lain untuk mengongkosi perang di Hindia Belanda. Untuk pertama kalinya selama mereka menjajah Indonesia, keuangan pemerintahan mereka di Indonesia terkuras habis. 

Letnan Gubernur Jenderal H. M. De Kock menggagas rencana untuk segera menghentikan perang yang telah berlangsung lima tahun itu. la pun menawarkan strategi perang ‘pamungkas’ mereka, berunding, la mengajak Pangeran Diponegoro berdamai. Jika dalam perundingan nanti Pangeran Diponegoro tidak setuju dengan ‘pasal-pasal’ perdamaian, Sultan Hamengku Buwono III itu boleh kembali ke pasukannya.

Secara kesatria Pangeran Diponegoro memenuhi ajakan perundingan untuk perdamaian itu. Namun, perundingan yang digagas Letnan Gubernur Jenderal H.M. De Kock yang berlangsung di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830 itu hanyalah sebuah siasat untuk menangkap Pangeran Diponegoro.

Kedatangan Pangeran Diponegoro langsung digunakan pasukan Belanda untuk menangkap dan menawannya. Mereka lantas mengasingkan Pangeran Diponegoro ke Manado dan seterusnya mengasing­kannya di dalam Benteng Rotterdam di Makassar. Pangeran Diponegoro yang gagah berani dan tidak pernah terkalahkan serta tidak pernah menyerah itu akhirnya wafat di tanah pengasingannya di Makassar, 8 Januari 1855, setelah 25 tahun ia diasingkan.

Pemerintah Indonesia mengangkat Pangeran Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1973.