Buya HAMKA : Mensyi'arkan Agama Islam dalam Sastra Melayu


Buya HAMKA lahir pada tahun 1908 di Kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat. HAMKA merupakan singkatan dari nama panjangnya, yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah. la merupakan putra dari Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang juga merupakan ulama di tanah Minang. Sebagaimana umumnya anak-anak di Minangkabau, ia belajar mengaji dan tidur di surau, selain belajar pencak silat, la juga masuk sekolah desa sampai kelas 2 tingkat dasar. Sore harinya, ia belajar agama di Sekolah Diniyah (sekolah agama, madrasah).

Akan tetapi, masa kecilnya yang indah itu berakhir. HAMKA mengikuti ayahandanya yang mengajar di Sumatera Thawalib, di Padang Panjang, la berkesempatan belajar di Perguruan Thawalib yang dipimpin oleh ayahnya selama beberapa waktu, namun tak sampai tamat. Selama belajar di Thawalib, HAMKA bukan termasuk anak yang pandai, la sangat malas belajar dan sering kali meninggalkan sekolahnya selama beberapa hari.

HAMKA remaja punya banyak hobi. Salah satu ke­sukaannya adalah mengembara mengunjungi perguruan pencak silat, mendengar senandung dan kaba, yaitu kisah-kisah rakyat yang dinyanyikan dengan alat musik tradisional, rebab dan saluang (alat musik tiup khas Minang). Kegemarannya yang lain adalah menonton film. Bahkan, demi hobinya itu, ia pernah mengelabui ayahandanya yang merupakan guru mengajinya dalam memenuhi hasratnya menonton. Melalui hobi itulah, HAMKA sering kali mendapat inspirasi untuk menulis.

Saat HAMKA berusia 12 tahun, kedua orang tuanya bercerai. Hal ini berakibat terhadap perkembangan kejiwaannya, la merasa kurang mendapatkan kasih sayang yang sewajarnya dari kedua orang tuanya. HAMKA yang kemudian mengikuti ayahnya pindah ke Padang Panjang harus menghadapi cemoohan dari keluarga ayahnya sendiri.

Menurut adat Minang, seorang anak lelaki dianggap tidak pantas tinggal bersama ayahnya yang tidak lagi beristrikan ibu kandungnya. Sebaliknya, untuk tinggal bersama ibunya pun, ia tidak merasa nyaman karena ada bapak tiri. Beruntung, neneknya sangat menyayangi HAMKA sejak dilahirkan. HAMKA pun tinggal dan lebih banyak menghabiskan masa kecil bersama neneknya.

Pada tahun 1924, HAMKA merantau ke Pulau Jawa. Hal itu dipicu Oleh renggangnya hubungannya dengan sang ayah, serta etos merantau orang Minangkabau. HAMKA pergi ke pulau Jawa saat baru menyelesaikan pendidikan formalnya antara 1916 - 1923 di Sekolah Diniyah di Parabek, kemudian dilanjutkan belajar di Sumatera Thawalib di Padang Panjang.

Dorongan lain Hamka merantau adalah karena awal abad ke-20, di Pulau Jawa mulai muncul gerakan-gerakan politik keagamaan, seperti Sarekat Islam yang dipimpin oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan Muhammadiyah yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Begitu juga gerakan-gerakan nasionalis yang kesemuanya bertujuan menuntut kemerdekaan Indonesia di bawah pimpinan Soekarno. Di Yogyakarta, HAMKA menumpang di rumah pamannya, Jakfar Amrullah, seorang pedagang batik.

Selama bermukim di sana, HAMKA aktif mengikuti kursus-kursus yang diadakan oleh Organisasi Sarekat islam, la belajar langsung pada H.O.S Tjokroaminoto, pimpinan Sarekat Islam. Belajar pengetahuan Sosiologi dari Soerjopranoto, filsafat dan sejarah Islam dari KH. Mas Mansur, dan tafsir dari Ki Bagus Hadikusumo. HAMKA juga sempat mengembara ke Bandung, lalu bertemu tokoh Masyumi, A. Hassan dan M. Natsir yang memberinya kesempatan menulis dalam majalah Pembela Islam.

Setahun merantau, pada 1925, HAMKA kembali ke Minang. Saat itu, usianya baru 17 tahun, namun ia telah menjadi ulama muda yang disegani, la tumbuh jadi tukang pidato. Maka, di Minang, ia membuka kursus-kursus pidato bagi kalangan seusianya. Dengan telaten, pidato kawan-kawannya itu diterbitkan jadi buku dengan judul Khatib ul-Ummah. Inilah karya perdana HAMKA sebagai seorang penulis. Tapi, itu mendapat kritik dari sang ayah. Karena kritik itu, HAMKA kemudian merantau lagi untuk menambah pengetahuannya.

Selain jago pidato, HAMKA juga jago menulis. Ratusan buku telah dikarangnya. Bukunya beragam, mulai soal agama Islam hingga novel. Maka, tak salah jika ia dijuluki Ulama Pujangga. Karyanya yang menjadi tonggak kepujanggaannya adalah Laila Majnun, yang diilhami oleh sebuah cerita pendek berjudul "Majdulin" yang dibacanya dalam sebuah majalah Arab. Karya terbesar HAMKA adalah buku Tafsir Al-Azhar lengkap 30 juz. Hingga kini, bukunya tetap relevan dengan kehidupan beragama di Indonesia. Karyanya itu diselesaikan ketika mendekam di tahanan saat berbeda pendapat dengan Soekarno tentang Pancasila sebagai falsafah negara. Tidak hanya itu, jejak HAMKA ini banyak kita temui. Sebagai bukti penghargaan yang tinggi dalam bidang keilmuan, Persyarikatan Muhammadiyah kini telah meng­abadikan namanya pada sebuah perguruan tinggi yang berada di Yogyakarta dan Jakarta : Universitas HAMKA (UHAMKA).

Sebagai seorang sastrawan sekaligus ulama, perjuangan HAMKA dimulai pada tahun 1925 ketika ia kembali ke Padang Panjang setelah sebelumnya berada di Jawa. Di Padang Panjang, ia menulis majalah pertamanya berjudul Ummah,yang berisikan kumpulan pidato yang didengarkannya di Surau Jembatan Besi, dan Majalah Muhammadiyah. Di sela-sela aktivitasnya dalam bidang dakwah melalui tulisan, ia menyempatkan berpidato di beberapa tempat di Padang Panjang. Namun, saat itu, semuanya justru dikritik tajam oleh ayahnya, "Pidato-pidato saja adalah percuma. Isi dahulu dengan pengetahuan, barulah ada arti dan manfaatnya pidato-pidatomu itu "

Di sisi lain, HAMKA tidak mendapatkan penerimaan baik dari masyarakat, la sering kali dicemooh sebagai "tukang pidato yang tidak berijasah". Bahkan, ia sempat mendapat kritikan dari sebagian ulama karena ketika itu ia belum menguasai bahasa Arab dengan baik. Berbagai kritikan yang ia terima di tanah keiahirannya dijadikan cambuk untuk membekali diri lebih matang.

Pada bulan Februari 1927, HAMKA mengambil keputusan pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu pengetahuan keagamaan, termasuk untuk mempelajari bahasa Arab dan menunaikan ibadah hajinya yang pertama, ia pergi tanpa pamit kepada ayahnya dan berangkat dengan biaya sendiri. Selama di Makkah, ia menjadi koresponden Harian Pelita Andalas, sekaligus bekerja di sebuah perusahaan percetakan milik Tuan Hamid, putra Majid Kurdi, yang merupakan mertua dari Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Di tempat ia bekerja itu, HAMKA dapat membaca kitab-kitab klasik, buku-buku, dan buletin Islam dalam bahasa Arab, satu-satunya bahasa asing yang dikuasainya.

Menjelang pelaksanaan ibadah haji berlangsung, HAMKA bersama beberapa calon jamaah haji lainnya mendirikan organisasi Persatuan Hindia-Timur, sebuah organisasi yang memberikan pelajaran manasik haji bagi calon jamaah haji asal Indonesia. Setelah menunaikan haji, dan beberapa lama tinggal di Tanah Suci, ia berjumpa dengan Agus Salim dan sempat menyampaikan hasratnya untuk menetap di Makkah, namun Agus Salim justru menasihatinya untuk segera pulang. "Banyak pekerjaan yang jauh lebih penting menyangkut pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat engkau lakukan. Karenanya, akan lebih baik mengembangkan diri di tanah airmu sendiri," ujar Agus Salim.

HAMKA pun segera kembali ke tanah air setelah tujuh bulan bermukim di Makkah. Namun, bukannya pulang ke Padang Panjang, ia malah menetap di Medan, kota tempat berlabuhnya kapal yang membawanya pulang.

Selama di Medan, HAMKA banyak menulis artikel di berbagai majalah, dan sempat menjadi guru agama selama beberapa bulan di Tebing Tinggi, la mengirimkan tulisan-tulisannya untuk surat kabar Pembela Islam di Bandung dan Suara Muhammadiyah yang dipimpin Abdul Rozak Fachruddin di Yogyakarta. Selain itu, HAMKA juga menuliskan laporan-laporan perjalanan, terutama perjalanannya ke Makkah pada tahun 1927. Pada tahun 1928, ia menulis romannya yang pertama dalam bahasa Minangkabau berjudul Si Sabariyah. Pada tahun yang sama, ia diangkat sebagai redaktur Majalah Kemajuan Zaman berdasarkan hasil konferensi Muhammadiyah di Padang Panjang. Setahun berikutnya, ia menulis beberapa buku, antara lain Agama dan Perempuan, Pembela Islam, Adat Minangkabau, Agama Islam, Kepentingan Tabligh, dan Ayat-Ayat Mi'raj. Namun, beberapa di antara karyanya tersebut disita karena dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial yang sedang berkuasa.

Di Medan, HAMKA juga pernah bekerja sebagai editor sekaligus menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah pengetahuan Islam yang didirikannya bersama M.Yunan Nasution, yaitu majalah Pedoman Masyarakat. Melalui Pedoman Masyarakat, ia untuk pertama kalinya memperkenalkan nama pena HAMKA. Selama di Medan, ia menulis Di Bawah Lindungan Ka'bah yang terinspirasi dari perjalanannya ke Makkah pada tahun 1927. 

Setelah Di Bawah Lindungan Ka'bah diterbitkan pada tahun 1938, ia menulis Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang pada awalnya ditulis sebagai cerita bersambung dalam Pedoman Masyarakat Selain itu, ia juga menerbitkan beberapa roman dan buku-buku lainnya, seperti Merantau ke Deli, Keadilan Ilahi, Tuan Direktur, Angkatan Baru, Terusir, Di Dalam Lembah Kehidupan, Ayahku, Tasawuf Modern, dan Falsafah Hidup. Namun, pada tahun 1943, majalah Pedoman Masyarakat yang dipimpinnya dibredel oleh Jepang, yang saat itu sedang berkuasa.

Singkat cerita, pada tahun 1953, HAMKA terpilih sebagai pimpinan pusat Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto. Sejak saat, ia selalu terpilih dalam Muktamar Muhammadiyah selanjutnya, sampai pada tahun 1971 ia memohon agar tidak dipilih kembali karena merasa uzur. Akan tetapi, ia tetap diangkat sebagai penasihat pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Pada tahun 1959, HAMKA mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo, atas jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan bahasa Melayu. Lalu, pada tanggal 6 Juni 1974, ia memperoleh gelar kehormatan dari Universitas Nasional Malaysia di bidang kesusastraan dan gelar profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo. HAMKA juga pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia dan dilantik pada tanggal 26 Juli 1977.

HAMKA meninggal di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun, la dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada 7 November 2011. Untuk mengenang jasanya, di tanah kelahirannya, kini berdiri sebuah bangunan yang dijadikan museum untuk mengenang jasa dan pengabdiannya pada masyarakat. Bangunannya diresmikan pada 11 November 2001 oleh H. Zainal Bakar, Gubernur Sumbar masa itu.

Di dalam museum itu, tersimpan berbagai peninggalan HAMKA. Ada ruang tidur yang berisi ranjang yang dulu sempat menjadi tempat tidurnya. Di sudut ruangan lainnya tampak aneka barang, seperti sebilah tongkat yang dalam rak tersendiri, dua kursi rotan, juga lemari kaca berisi jubah dan aksesoris lain yang biasa dikenakan HAMKA.