sponsor

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Biografi

Tips

Dunia

Religi

Sains

Medis

Entrepreneur

Brand

» » » » Albertus Sugiyopranoto : Pemimpin Umat Katolik Indonesia

Segala bentuk penjajahan manusia atas manusia tidak dapat dibenarkan dalam ajaran agama apapun. Penindasan manusia atas manusia adalah bentuk pengingkaran manusia atas perintah Tuhan karena Tuhan memerintahkan manusia mendiami dan mengolah segala yang ada di bumi-Nya untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama seluruh umat manusia. Keserakahan dan kerakusan saja yang menyebabkan sebagian manusia berkeinginan menjajah sebagian manusia lainnya. Sifat itulah yang ditunjukkan Belanda ketika menjajah Indonesia selama 350 tahun. Belanda seolah menutup mata dengan telah berkumandangnya proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 ke seluruh dunia. Serasa tak puas dengan agresi pertamanya, Belanda kembali melancarkan serangan brutalnya, Agresi II, pada tanggal 19 Desember 1948. Rakyat Indonesia bangkit untuk melawan wujud keserakahan dan kesewenang-wenangan tersebut, tidak terkecuali umat Katolik Indonesia.

Seorang Pastor Paroki yang kemudian menjabat Penasehat Misi Yesus di Pulau Jawa sengaja bermalam di lbukota Yogyakarta yang menjadi sasaran target serangan Belanda. la ingin menunjukkan bahwa umat Katolik yang dipimpinnya adalah bagian yang tak terpisahkan dari rakyat Indonesia dan menentang kehendak keserakahan Belanda. la adalah Sugiyopranoto.


Sugiyopranoto dilahirkan di Solo, tanggal 25 November 1896, Setamat Hollandsche Indische School (HIS), ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru di Muntilan, Jawa Tengah, yang ditamatkannya pada tahun 1915. Sugiyopranoto lantas mengabdikan ilmu dengan menjadi guru selama 1 tahun. Sugiyopranoto kemudian meneruskan Pendidikan keagamaan Katolik yang dianutnya. Kecerdasan dan kesungguhan yang ditunjukkannya membuatnya dikirim ke negeri Belanda untuk memperdalam pengetahuan dalam bidang agama Kristen, bahasa Latin, bahasa Yunani dan juga filsafat.

Sepulangnya Sugiyopranoto ke tanah air kembali, ia bertugas di sekolah tempatnya dulu belajar, Sekolah Guru di Muntilan. Ia mengajar agama, ilmu pasti, dan Bahasa Jawa, Para muridnya dan juga orang-orang memanggil lelaki santun itu Frater Sugiyo.

Frater Sugiyo terus berkiprah dalam bidang keagamaan. Selain cerdas, ia juga dikenal kreatif dan mempunyai jiwa kesenian yang tinggi. Ia memberikan terobosan baru dengan memasukkan unsur gamelan Jawa untuk rnengiringi nyanyian gereja. Terobosan baru Frater Sugiyo itu dilakukannya setelah ia memangku jabatan Apolistik Semarang.

Untuk yang kedua kalinya, Frater Sugiyo ke negeri Belanda pada tahun 1928. Di negeri Kincir Angin tersebut ia mendalami pelajaran teologi. Sepulang dari Belanda, ia kemudian diangkat menjadi Pastor Pembantu di Bintaran, Yogyakarta. Namanya diganti dengan Sugiyopranoto. la selanjutnya menjadi Pastor Paroki dan kemudian diangkat menjadi Penasehat Misi Yesus di Pulau Jawa pada tahun 1938.

Keserakahan dan kesewenang-wenangan Belanda yang kembali melancarkan agresi untuk menjajah kembali negeri tercintanya tidak bisa dibenarkan Sugiyopranoto. Kehendak Belanda jelas-jelas bertentangan dengan keimanannya yang mengajarkan cinta dan kasih untuk sesama umat manusia. Sugiyopranoto menunjukkan protes dan perlawanannya dengan sengaja menginap di Yogyakarta yang menjadi sasaran serangan pasukan Belanda. Keberadaan Sugiyopranoto di ibukota revolusi Indonesia itu juga menunjukkan, umat Katolik Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari rakyat Indonesia yang sama-sama menghendaki tetap tegaknya kemerdekaan Indonesia yang tercinta.

Sugiyopranoto terus berkiprah dalam bidang keagamaan untuk membimbing umatnya hingga pada awal tahun 1963 kesehatannya menurun. Tanggal 22 Juli 1963 umat Katolik Indonesia kehilangan salah seorang pemimpin terbaik mereka setelah Sugiyopranoto wafat di Belanda. Jasadnya diterbangkan ke tanah air untuk kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang.


Atas jasa dan pengabdiannya, Pemerintah Indonesia mengangkat MGR Albertus Sugjyopranoto sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan, beberapa hari setelah kematiannya, 26 Juli 1963. 

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply